Sabtu, 15 September 2018

Jembatan Suramadu Tercantik




Jika Inggris mempunyai Tower Bridge sebagai jembatan termegah di dunia, dan Tiongkok terkenal dengan Danyang-Kunshan Grand Bridge sebagai jembatan terpanjang di dunia, maka Indonesia punya Suramadu, jembatan yang saat diresmikan merupakan jembatan terpanjang di Asia Tenggara.
Dibangun sejak 2003 dan mulai difungsikan pada 2009, jembatan yang menghubungkan Surabaya dengan Madura ini mempunyai panjang sekitar 5.438 meter, yang secara struktur terdiri dari tiga bagian, yaitu jalan layang, jembatan penghubung, dan jembatan utama.
Saat saya berkunjung, yang ditulis pada Jumat (7/8/2015), jembatan Suramadu menampakkan pesonanya di malam hari. Dengan lebar 30 meter, jembatan ini memiliki 4 lajur dua arah dengan lebar 3,5 meter, sedangkan dua lajur lainnya merupakan lajur darurat dengan lebar 2,75 meter. Uniknya, jembatan ini boleh dilintasi oleh kendaraan roda dua.

Indahnya Jembatan Suramadu di malam hari.

Tak hanya itu, Jembatan Suramadu didesain khusus agar kapal-kapal di bawahnya tetap dapat melintas, yaitu dengan menyediakan ruang dengan lebar sekitar 400 meter secara horizontal dan tinggi sekitar 35 meter dari ats permukaan laut.
Bagian utama Jembatan Suramadu ditopang oleh dua tower yang menyala biru di malam hari. Kedua tower yang memiliki tinggi sekitar 140 meter dari atas air ini disanggah 144 kabel penopang (stayed cable), yang ditanam dengan fondasi sedalam 100 meter.

Indahnya Jembatan Suramadu di malam hari.

Jembatan Suramadu tiap hari dilewati sebanyak 8.000 motor dan sekitar 4.000 mobil. Dengan adanya jembatan ini, waktu tempuh dari Madura ke Surabaya dan sebaliknya dapat dipangkas, dari 30 menit menjadi hanya 5 menit saja.
Bagi Anda yang sedang melancong ke Surabaya, tidak ada salahnya untuk singgah di jembatan kebanggaan masyarakat Indonesia ini. Datanglah di malam hari, pasalnya Jembatan Suramadu akan memunculkan pesona dengan kilauan lampu-lampu di sepanjang jalannya. (Ibo/Igw)

Indahnya Danau Plitvice

Untuk Anda yang mencintai wisata danau, Kroasia memiliki danau terindah di dunia yaitu Danau Plitvice. Danau tersebut dikelilingi oleh 3 gunung dan tebing-tebing yang terjal. Danau ini juga dapat berubah warna.

Danau Plitvice bagian dari Taman Nasional Plitvice di Kroasia. Setiap orang yang telah datang ke danau ini sepakat mengatakan Danau Plitvice adalah danau terindah di dunia. Danau ini dikelilingi oleh tebing-tebing terjal nan curam dan tiga gunung, yaitu Gunung Mala Kapela, Gunung Dinaric Alps, dan Gunung Medvedak. Inilah yang menambah daya tarik Danau Plitvice.

Danau Plitvice adalah kumpulan 20 danau kecil di taman nasional ini, yang membentuk satu danau besar, cantik, nan indah. Danau ini terbagi atas dua bagian, yaitu danau atas dan bawah. Jika datang ke danau ini, Anda akan dibuat terpana oleh kecantikan air terjun yang ada. Air terjun ini berasal dari 20 danau tersebut. Seluruh danau ini membentuk air terjun indah yang mengalir di tebing. Benar-benar cantik!

Danau ini sangat menarik perhatian karena warnanya yang khas dan bisa berubah-ubah, yaitu biru, hijau, dan abu-abu. Warna ini tergantung musim yang sedang berlangsung. Ini karena perubahan warna berasal dari sumber mineral yang terkandung di dalamnya.

Keindahan panorama alam yang masih sangat alami dan asri ini telah menghipnotis seluruh wisawatan yang datang. Udaranya yang sejuk membuat siapa saja betah untuk berlama-lama di sana.

Untuk mencapai pusat air, Anda bisa melalui jalan yang terbuat dari jembatan kayu. Jembatan ini memang sengaja disiapkan pengelola untuk dilewati setiap pengunjung yang datang. Sambil berjalan melewati jembatan, Anda bisa menikmati suasana hutan Eropa Timur yang masih asri dan hijau.

Tapi ingat, Anda harus waspada jika datang berkunjung ke danau ini. Posisinya yang berada di dalam hutan menjadikannya sebagai sumber minum untuk serigala, rusa, dan hewan liar hutan lainnya.

Kecantikan, keindahan, dan keasrian tempat ini membuat UNESCO menetapkannya sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1979.

Kamis, 13 September 2018

Cerita di balik Cantiknya Goa Mahameru


Anda pernah berkunjung ke Gua Maharani di Lamongan? Sebelum dikenal sebagai tempat wisata kebun binatang dengan nama Maharani Zoo dan Goa, Gua Maharani sudah lebih dulu populer. Terletak di Jalan Raya Paciran Kecamatan Paciran Lamongan sekitar 2,5 jam dari Surabaya. Maharani Zoo dan Goa merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Lamongan Jawa Timur. Tempat wisata ini menawarkan pengalaman menyaksikan aneka satwa dipadu pengalaman menyusuri kedalaman gua.

Gua yang terletak di kedalaman 25 meter di bawah permukaan tanah ini dianggap sebagai salah satu keajaiban perut bumi karena memiliki stalaktit dan stalakmit yang masih aktif. Stalaktit yaitu batuan yang menggantung dari langit-langit goa, terbentuk ketika air menetes dan menyisakan berbagai mineral yang tidak ikut menetes. Sedangkan stalagmit yaitu batuan yang terbentuk di dasar gua dan menumpuk ke atas karena akumulasi bahan mineral yang menetes dari langit-langit gua. Menurut penelitian para ahli, stalaktit dan stalakmit yang menghiasi Gua Maharani masih terus tumbuh sekitar satu centimeter tiap sepuluh tahun.

Kisah penemuan Gua Maharani bisa dikatakan unik. Berdasarkan wawancara dengan Bapak Sugeng, penemu Gua Maharani, gua dengan luas 2.500 meter persegi ini dia temukan pada 6 Agustus 1992 ketika dia sedang menambang batu kapur di area tersebut sebagai bahan baku pupuk. Ia mengaku tak sengaja menemukannya. Saat menggali, tanah yang ia gali tiba-tiba longsor dan berlubang.



Begitu melihat penampakan gua yang begitu indah, Bapak Sugeng takjub. Malam hari setelah penemuan tersebut ia mengaku bermimpi didatangi seorang wanita cantik dan mengaku bernama Dewi Maharani, yang mengaku merupakan makhluk halus penghuni gua tersebut. Wanita tersebut berpesan bahwa siapapun boleh berkunjung ke gua tersebut asalkan dijaga dan dipelihara dengan baik.



Setelah kejadian tersebut, Bapak Sugeng segera melaporkan penemuan gua indah itu ke pihak berwenang. Pada tanggal 10 Maret 1994, gua Maharani resmi dibuka oleh Bupati Lamongan pada waktu itu, Bapak Mohamad Faried. Nama Maharani diambil dari nama perempuan cantik yang pernah mendatangi mimpi Bapak Sugeng.

Kini Gua Maharani sudah banyak bersolek, lampu warna-warni ditempatkan di dalamnya dan menyorot setiap sisinya. Pengunjung dapat menikmati keindahan ornamen stalaktit dan stalagmit yang diberi nama sesuai bentuknya. Pengunjung dapat menyusuri kedalaman gua di atas rute trekking yang aman dan nyaman sepanjang 350 meter. Sebagai salah satu keajaiban perut bumi, Gua Maharani harus dijaga agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Jelajah Gunung Bromo


Kali ini diyah ingin bercerita sedikit tentang pengalaman backpacker telusur bromo.
di karenakan rumah berada di malang, telusur bromo aku memilih via gubuk klakah.
jadi jika manteman berasal dari arah surabaya, setelah melewati fly over terminal arjosari bisa langsung belok kiri menuju arah tumpang, lurus terus menyusuri jalan utama.
dan lebih jelasnya kalo tidak mau nyasar ikutilah papan pintar yang ada di jalan...
hhheehe...maav tidak bisa menerangkan satu persatu jalannya, sebab aku sendiri kalo tidak tau arah selalu ngikutin papan pintar

Solo traveller itulah sebutan dari seorang diyah vipus, perjalanan jauh sering kali hanya di temeni oleh adik tercinta. yaaa... maklum jomblo...xixixixi
eiitttsss tapi bukan jones loh yaaa,,,,

Okee fiiixss waktunya bercerita....jalur bromo via gubuk klakah ini bisa di bilang ekstrim, jadi pastikan kendaraan manteman semua dalam keadaan sehat ya...
soalnya mulai dari coban pelangi jalurnya naik terus, tanjakan, belok kanan belok kiri, kalo gag biasa pasti muntah muntah saking pusingnya...
hhhaaha

Kebetulan pas kesana naik motoran, jadi lebih menikmati perjalanan. kelak kelok embun yang menerpa wajah, angin semilir dan hijaunya alam lebih terasa nikmat...
waduuucchhh lebaay nya kumaatt...hhhaaha

tiba sampai pertigaan antara lanjut arah lumajang dalam hal ini arah ranu pane (semeru) dan bromo, jalanan mulai menurun.
jadi hati hati manteman apalagi kalo lagi tour pake motor pasti licin.
siap siap tangan rem dan tekan rem...jalannya selain tidak rata juga sangat menurun jadi sangat berbahaya sekali dan rawan jatuh.
aku saranin kalo mau ke bromo via gubuk klakah rame-rame saja, paling tidak bawa 2 orang teman atau 2 motor.
karena jika ada ban bocor atau insiden lain yang tidak di inginkan paling tidak ada teman yang menemani.
kecuali buat aku, aku sudah terbiasa. meskipun cuma berdua selalu lancar dalam perjalanan..hhheeehe
mungkin ada guardian angel di sampingku yang gag keliatan mata yang slalu menjagaku..hhhaaha
ngigo...






say goodbye sama pos pembayaran wisata bromo


yaaaa kurang lebih seperti itu telusur bromo kali ini...makasi manteman...

Gunung Rinjani


Dimana ada niat, di situ ada jalan. Pepatah itu rasanya cocok bagi traveler ini yang nekat pulang pergi Bekasi-Gunung Rinjani dengan naik vespa. Perjalanan dilakukan berhari-hari, sampai shockbreaker Vespa pun patah.

Rencana ini telah ada sejak beberapa tahun lalu, kira-kira awal Desember 2011. Namun karena saya bekerja, sangat susah mendapatkan libur panjang. Maka saya berencana, libur lebaran 2012 akan touring dan berpetualang dengan vespa untuk mengunjungi tempat tempat indah yang ada di Lombok.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya libur Lebaran pun tiba. Namun ada saja halangan untuk mewujudkan impian, dan akhirnya pupus sudah harapanku untuk mewujudkan semuanya tahun itu.

Namun seiring berjalannya waktu, rencanaku pun mulai berubah, yang tadinya hanya ingin jalan saja di Lombok dan mengunjungi tempat indah, ternyata malah tujuan utama nya ke Gunung Rinjani dengan naik Vespa dari Bekasi. Memang banyak teman yang berkata, "Wah, udah gila bro!"

Tapi memang dasar sudah dibuat mabuk kepalang akan keindahan Indonesia Timur yang cuma bisa liat di Google. Akhirnya saya mengambil keputusan berangkat pada 3 Agustus 2013 dan tetap maksa untuk pergi ke sana.

Tadinya, semua orang terdekat, keluarga, teman, dan pacar, seperti ingin mencegah. Akhirnya karena melihat keseriusan dan rencanaku yang matang, akhirnya mereka mensupport dan tetap memberi semangat.

Akhirnya waktu itu pun tiba. Saya hanya berdua saja, berdua bersama temanku yang baru kenal saat naik gunung Cikuray naik vespa. Perjalanan dimulai dari tempat biasa kita nongkrong di daerah Harapan Baru Regency.

Saya berangkat pukul 22.00 WIB pada hari Sabtu dan diantar oleh teman-temanku beriringan naik vespa sampai pom bensin dekat Stasiun Bekasi. Mereka pun melepasku, antara rela dan tidak rela karena takut saya kenapa-kenapa dijalan.

Perjalanan pun dimulai! Pagi Hari saya baru sampai di Subang, jalan raya Pantura. Saya mengambil rute Pantura-Semarang, lalu terus menuju tengah hingga Solo.

Singgah di Boyolali, tempat teman yang kebetulan sudah di kampung halamannya, karena saat itu adalah momen lebaran. Mendapat jamuan nikmat tentunya di sana, mengingat di jalan hanya makan apa adanya, alias mie terus untuk meminimalisir budget.

Saya meneruskan perjalanan dari Boyolali menuju Solo, lalu mengarah ke Sragen. Lanjut ke arah Madiun, mengambil jalan ke arah Pasuruan, lalu Probolingggo. Perjalanan menuju Banyuwangi untuk menyeberang di Pelabuhan Ketapang sepertinya tak sampai-sampai, membuatku putus asa.

Akhirnya 2 hari 3 malam berkendara Vespa, baru sampai di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Rasa capek, lelah, lesu, campur aduk, namun bahagia. Pertama kalinya menginjakkan kaki di pulau impian saat masih SMA, yaitu Bali! Setelah menyeberang dari Ketapang, saya tiba di Pelabuhan Gilimanuk dengan menyeberang kapal, sekitar 45 menit.

Perjalanan dilanjutkan dari Gilimanuk ke Denpasar, memakan waktu 7 Jam. Akhirnya saya pun berkeliling pulau Bali, mulai dari Tanah Lot, Pantai Kuta, sampai Pantai Legian. Mengingat waktu yang terbatas, tidak bisa berlama-lama di Bali. Saya melanjutkan perjalanan menuju Pulau lombok, menuju pelabuhan Padang Bai untuk bisa tiba ke Pulau Lombok.

Dari sana, biaya motor sudah termasuk orang itu, sekitar Rp 112 ribu dan memakan waktu tempuh Kapal Fery 5 jam. Karena cukup jauh perjalanannya, saya pun tidur untuk istirahat di kapal.

Setibanya di Pulau Lombok, saya pun langsung bergegas menuju Gunung Rinjani dan mendakinya. Inilah tantangan terberat untuk menggapai puncak gunungnya yang berada di ketinggian 3.726 Mdpl. Dengan kondisi sudah berkendara Vespa dari Bekasi dan tidak digantikan sama sekali.

Alhamdulillah, Tuhan memberiku kekuatan hingga tiba di puncaknya. Sungguh suatu kebanggan sendiri bisa tiba di sana, terlebih menggunakan Vespa dari Bekasi. Aku kadang suka menjuluki diriku sendiri ini Scooterist pecinta alam.

Saya sangat kagum pertama kali tiba di Lombok, dan bergumam sungguh indah alam ciptaan Tuhan. Sayang destinasiku tak tercapai semua. Tidak sempat ke Gili Trawangan, Gili Kondo, Gili Meno, Gili Air, dan juga yang sangat kusayangkan, Pantai Pink! Tapi saya pun bersyukur bisa menikmati keindahan dari atas puncak Gunung Rinjani.

Perjalanan menuju pos pendakian saat turun, di situlah saya sudah sangat tidak kuat, sampai kaki nyeret di jalan. Akhirnya dipaksakan lalu menuju pos untuk mengambil Vespa yang diparkir di Pos Sembalun.

Kami menginap semalam di rumah warga setelah turun gunung. Keesokan harinya kami pulang kembali Ke tanah Jawa. Saya transit dan singgah semalam di Klaten, kemudian melanjutkan perjalanan untuk pulang ke Bekasi.

Namun masalah terjadi di Batang, saat mau masuk Kabupaten Pekalongan. Mengingat yang kubonceng beratnya 90 kg, ditambah lagi beban tas carrier 2 buah. Tiba-tiba shockbreaker belakang patah, dan Vespa trouble di situ, stuck jam 2 malam.

Akhirnya kami menunggu pagi dan mencari bantuan untuk mengelas. Semua masalah pun bisa dilewati, dan akhirnya kami tiba dirumah masing-masing. Sungguh Pengalaman yang sangat amat indah dan tak akan kulupakan seumur hidupku.

Kamis, 06 September 2018

Pantai Tiga Warna Malang

Tahukah Anda, Malang punya pantai yang bisa disandingkan dengan pantai-pantai di Bali. Tepatnya di kawasan Malang bagian selatan, terdapat deratan pantai yang memanjakan mata. Seperti, Pantai Tiga Warna yang eksotis ini!

Berlokasi di Desa Sendang Biru, Kecamatan Sitiarjo, Malang Selatan terdapat kawasan Pantai Clungup, Gatra serta Pantai Tiga Warna yang sangat wajib dikunjungi. Setelah  melewati perkampungan terakhir, kita akan disuguhi trek jalanan tanah kurang lebih 2 km sampai bertemu pos tiket masuk.

Kita dikenakan biaya tiket tanda masuk pantai serta donasi untuk 1 pohon bakau. Karena pantai tersebut merupakan kawasan konservasi bakau dan terumbu karang, jadi sebelum dan sesudah dari pantai pengunjung akan dilakukan pendataan barang apa saja yang dibawa masuk ke lokasi pantai dengan tujuan menjaga kelestarian pantai.

Dari pos tersebut masih diteruskan perjalanan kurang lebih 2 km, dengan menyusuri jalanan sempit, turun naik dan berupa tanah, sangat licin apabila musim hujan. Trek yang amazing, panorama yang indah, serta suara khas hewan-hewan hutan akan menemani sepanjang perjalanan.

Bukit-bukit indah serta jajaran pohon bakau menandai lokasi Pantai Clungup sudah dekat, sangat asri dan alami, dengan ombak yang cukup tenang. Hamparan pasir putih akan ditemui di pantai ini, serta di sisi kanan mata kita akan dimanjakan pemandangan hutan mangrove. Puas menikmati pantai clungup, perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Gatra dengan melewati tegalan kurang lebih 3 km ke arah kiri.

Sangat menakjubkan pemandangan di pantai ini, gugusan pulau karang hijau yang tak jauh dari bibir pantai, pasir putih yang kemilau, deburan ombak yang seirama dengan tiupan angin, birunya laut yang membentang hingga menuju cakrawala. Benar-benar indah!

Tidak cukup sampai di sini pengunjung bisa menyatu dengan alam, dengan menggunakan pemandu setempat langkahkan kaki menuju bukit-bukit sebelah kiri Pantai Gatra. Ya, kita akan mendapati Pantai Tiga Warna yang eksotis!

Air laut yang bergradasi, biru dan hijau serta pasir pantainya yang putih jadi alasan mengapa pantainya diberi nama seperti itu. Pengunjung dapat bersantai di pesisir pantai, foto-foto dan snorkeling dengan aman.

Karena sebagai kawasan konservasi, maka pantai ini diterapkan pembatasan jumlah pengunjung setiap harinya. Jangan lupa menikmati sensasi kemping, kita bisa mendirikan tenda di lokasi Pantai Gatra dan Clungup. Saatnya menyatu dengan alam.

Kecantikan Pantai Pandawa


Belum lengkap rasanya bila liburan ke Bali tidak menikmati wisata pantainya. Beragam objek wisata pantai ditawarkan di Pulau Dewata. Salah satunya Pantai Pandawa dengan panoramanya yang cantik.

Pantai yang terletak di kawasan Desa Kutuh, Kabupaten Badung, itu dikenal dengan nama secret beach terutama oleh para turis mancanegara. Ini karena untuk masuk ke area pantai harus melewati tebing-tebing kapur yang tinggi baru bisa menikmati pesona Pantai Pandawa.

Dulu pantai berpasir putih ini masih sepi pengunjung. Wisatawan yang datang ke pantai tersebut lebih banyak mancanegara daipada lokal karena lokasinya terpencil. Seiring berjalannya waktu, banyak wisawatan Indonesia yang penasaran dan kini sudah semakin ramai.

Bahkan ketika detikTravel bersama rombongan dari Accor sampai di Pantai Pandawa, wisatawan lokal seolah membanjiri seluruh area Pantai Pandawa. Hanya segelintir turis asing yang terlihat sedang berjemur di atas pasir putih. Wisatawan yang hadir tidak terbatas usia, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia (lansia).

Saking penuhnya, saya pun sulit berfoto untuk mendapatkan suasana pantai yang indah tanpa terhalang seseorang. Jika ingin menemukan pemandangan yang tenang, saya harus berjalan jauh menelusuri pantai.

Meskipun demikian, saya tetap menyukai pemandangan di Pantai Pandawa. Matahari yang bersinar terik di atas pantai ketika bermain di siang hari membuat warna biru lautnya semakin indah. Para pelancong juga bisa bermain dengan perahu kuno sambil belajar mendayuh bersama keluarga. Setiap perahu dikenakan biaya sekitar Rp 20 ribu.

Di pinggir pantai, pihak pengelola menyediakan tempat beristirahat berupa kursi kayu yang dilengkapi dengan payung teduh. Setiap payung akan dikenakan charge sekitar Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu tergantung bagaimana Anda menawarnya.

Bagi Anda yang ingin ke Pantai Pandawa, lokasi wisata ini terletak di tengah-tengah antara Uluwatu dan Nusa Dua. Pantai memiliki jalur yang searah dengan Uluwatu dan hanya berjarak kurang lebih 5 kilometer dari Nusa Dua.